penyakit akibat kerja
Alat Keselamatan Kerja, Article

Penyakit Akibat Kerja: Pengertian, Penyebab, Jenis, dan Cara Pencegahannya

Penyakit akibat kerja merupakan salah satu risiko yang dapat dialami oleh pekerja akibat paparan bahaya di lingkungan kerja dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Berbeda dengan kecelakaan kerja yang terjadi secara tiba-tiba, penyakit akibat kerja biasanya berkembang secara perlahan karena paparan berulang terhadap faktor fisik, kimia, biologis, ergonomi, atau psikososial.

Penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang baik sangat penting untuk mencegah terjadinya penyakit akibat kerja. Selain melindungi kesehatan pekerja, penerapan K3 juga membantu meningkatkan produktivitas, mengurangi biaya pengobatan, serta menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman.

Apa Itu Penyakit Akibat Kerja?

 merupakan gangguan kesehatan yang timbul sebagai akibat dari pekerjaan atau lingkungan kerja. Penyakit ini dapat disebabkan oleh paparan bahan kimia, kebisingan, getaran, debu, radiasi, posisi kerja yang tidak ergonomis, maupun faktor biologis yang terdapat di tempat kerja.

Penyakit akibat kerja dapat menyerang berbagai sektor industri, seperti manufaktur, pertambangan, konstruksi, minyak dan gas, laboratorium, rumah sakit, hingga pergudangan.

Penyebab Penyakit Akibat Kerja

Beberapa faktor yang menjadi penyebab utama penyakit akibat kerja antara lain:

1. Bahaya Fisik

Paparan faktor fisik yang berlangsung terus-menerus dapat menyebabkan gangguan kesehatan, seperti:

  • Kebisingan tinggi yang menyebabkan gangguan pendengaran.
  • Suhu ekstrem yang memicu heat stress atau hipotermia.
  • Getaran dari mesin yang menyebabkan gangguan pada tangan dan lengan.
  • Radiasi ultraviolet maupun radiasi ionisasi.

Penggunaan earplug, earmuff, pakaian pelindung, dan pengendalian sumber bahaya menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko tersebut.

2. Bahaya Kimia

Paparan bahan kimia berbahaya dapat terjadi melalui pernapasan, kontak kulit, maupun tertelan secara tidak sengaja.

Contohnya meliputi:

  • Uap pelarut organik.
  • Gas beracun.
  • Asam dan basa kuat.
  • Debu silika.
  • Asbes.

Untuk mengurangi risiko, pekerja harus memahami Safety Data Sheet (SDS), mengenali simbol B3, dan menggunakan respirator atau APD yang sesuai.

3. Bahaya Biologis

Pekerja di bidang kesehatan, laboratorium, maupun pengelolaan limbah berisiko terpapar bakteri, virus, jamur, atau parasit yang dapat menyebabkan infeksi.

Pencegahannya meliputi penggunaan sarung tangan, masker, pelindung wajah, serta menjaga kebersihan dan sanitasi area kerja.

4. Bahaya Ergonomi

Posisi kerja yang tidak ergonomis atau aktivitas berulang dapat menyebabkan gangguan pada sistem otot dan tulang.

Contohnya:

  • Nyeri punggung.
  • Carpal Tunnel Syndrome (CTS).
  • Cedera bahu.
  • Nyeri leher.

Desain tempat kerja yang ergonomis serta peregangan secara berkala dapat membantu mengurangi risiko ini.

5. Faktor Psikososial

Tekanan pekerjaan, jam kerja yang panjang, konflik di tempat kerja, atau beban kerja berlebihan dapat memengaruhi kesehatan mental pekerja.

Dampaknya antara lain:

  • Stres kerja.
  • Burnout.
  • Gangguan tidur.
  • Penurunan konsentrasi.

Contoh Penyakit Akibat Kerja

Beberapa penyakit akibat kerja yang sering ditemukan antara lain:

  • Gangguan pendengaran akibat kebisingan.
  • Penyakit paru akibat debu silika (silikosis).
  • Asbestosis akibat paparan serat asbes.
  • Dermatitis kontak akibat bahan kimia.
  • Asma akibat paparan debu atau gas tertentu.
  • Carpal Tunnel Syndrome (CTS).
  • Heat stress akibat bekerja di lingkungan bersuhu tinggi.
  • Keracunan bahan kimia.
  • Gangguan penglihatan akibat paparan radiasi atau pencahayaan yang buruk.

Deteksi dini melalui pemeriksaan kesehatan berkala sangat penting untuk mencegah kondisi menjadi lebih serius.

Cara Mencegah Penyakit Akibat Kerja

Memerlukan pendekatan yang sistematis melalui penerapan K3 di tempat kerja. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

  • Melakukan identifikasi bahaya dan penilaian risiko menggunakan metode HIRADC.
  • Menerapkan Hierarchy of Controls, mulai dari eliminasi, substitusi, rekayasa teknik, pengendalian administratif, hingga penggunaan APD.
  • Menggunakan alat pelindung diri sesuai jenis pekerjaan.
  • Menyediakan ventilasi yang baik pada area kerja.
  • Memberikan pelatihan K3 kepada seluruh pekerja.
  • Menyediakan fasilitas tanggap darurat seperti eyewash station dan safety shower.
  • Melakukan pemeriksaan kesehatan pekerja secara berkala.
  • Memastikan seluruh bahan kimia memiliki label dan Safety Data Sheet (SDS).

Pentingnya Peran APD dalam Mencegah Penyakit Akibat Kerja

Alat Pelindung Diri (APD) merupakan lapisan perlindungan terakhir dalam pengendalian risiko. Jenis APD yang digunakan harus disesuaikan dengan potensi bahaya di tempat kerja, misalnya:

  • Respirator untuk melindungi saluran pernapasan dari debu, uap, atau gas berbahaya.
  • Sarung tangan tahan bahan kimia untuk mencegah kontak langsung dengan zat korosif.
  • Kacamata safety dan face shield untuk melindungi mata dan wajah.
  • Earplug atau earmuff untuk mengurangi paparan kebisingan.
  • Sepatu safety dan pakaian pelindung untuk mengurangi risiko cedera dan paparan bahan berbahaya.

Namun, penggunaan APD ( helm safety, sarug tangan, sepatu safety dan lainya ) tetap harus didukung oleh pengendalian bahaya lainnya agar perlindungan menjadi lebih efektif.

Kesimpulan

Penyakit akibat kerja merupakan ancaman serius yang dapat memengaruhi kesehatan pekerja serta produktivitas perusahaan. Penyebabnya dapat berasal dari bahaya fisik, kimia, biologis, ergonomi, maupun faktor psikososial. Oleh karena itu, setiap perusahaan perlu menerapkan sistem Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) secara menyeluruh, mulai dari identifikasi bahaya, penilaian risiko, penerapan Hierarchy of Controls, hingga penggunaan APD yang tepat.

Dengan budaya keselamatan yang kuat, pelatihan rutin, serta kepatuhan terhadap prosedur kerja yang aman, risiko penyakit akibat kerja dapat ditekan sehingga tercipta lingkungan kerja yang sehat, aman, dan produktif.

Related Posts